INDIES INDONESIA

Institute for National and Democratic Studies of Indonesia

 
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • green color
  • blue color

ILO DOMESTIC WORKERS CONVENTION FINALLY ADOPTED

“And so the Domestic Workers Convention in its entirety is hereby adopted, and so it is adopted”.

A loud and lengthy applause filled the room XVIII of the Palais des Nations after the Committee chairman hit the gavel and declared the adoption of the text of the historic convention on domestic workers.

After decades of struggle by domestic workers, their unions and associations, NGOs and advocates – the landmark convention that will recognize domestic work as work and where domestic workers should be treated no less than any other workers is now a reality.

Despite the repeated attempts of the representatives of the EU governments to dilute the text of the convention, the persistence of the workers and their effective lobbying and pressuring of their respective governments prevailed.

The EU’s proposed amendments became the major stumbling block up to the last minute of the tripartite committee deliberation on the text of the convention. Even governments gave strong remarks, particularly Australia, Brazil and the Africa group, on the repeated attempts of “members” (obviously referring to the EU) to dilute the convention and render it too weak to protect the rights of domestic workers.

As the committee adjourned for the day’s session, the workers start to sing with joy and happiness full of hope and determination to continue the struggle for the rights and dignity of the more than 100 million domestic workers all over the world.

Tomorrow, June 8, the committee will start its deliberation on the text of the recommendation.

“We are Workers, We are Not Slaves!”

Report by Eman C. Villanueva, Vice Chairperson of the Filipino Migrant Workers' Union (FMWU) in Hong Kong and the representative of the UFDWR and the Asian Migrants' Coordinating Body (AMCB) to the 100th ILC in Geneva.

 

Aksi Kaum Tani Menolak Perampasan Tanah

 

Sudah sejak lama rakyat yang tinggal di Desa Sukamulya, Rumpin, Bogor, Jawa Barat terganggu dengan watak anti-rakyat yang ditunjukkan secara terang terangan oleh TNI AURI, yang memaksakan kehendaknya untuk merampas tanah yang sudah lama dikelola dan menjadi sumber penghidupan bagi rakyat Desa Sukamulya. Sengketa tanah ini telah berlangsung lama, bahkan diwarnai tindak kekerasan oleh pihak TNI-AURI, seperti yang terjadi pada tahun 2007 dimana rakyat setempat ditembak, diteror, diculik, disiksa dan dipaksa pergi dari tanah di wilayah tersebut.

Hal ini semakin menunjukkan betapa sebuah institusi keamanan dan pertahanan seperti TNI AU, sebagai bagian dari Pemerintah RI berwatak anti-rakyat. Semakin sulit membedakan nasib rakyat seperti di daerah Rumpin pada jaman kolonial dimana tanah di wilayah tersebut dikuasai oleh Cultuur Maatschapij Tjikoleang di bawah kontrol pemerintah kolonial Belanda dan kondisi sekarang yang dikuasai oleh TNI AU sebagai bagian dari Pemerintah SBY.

Situasi sekarang, rakyat di Desa Sukamulya yang telah mengelola dan mendiami wilayah tersebut secara turun-temurun, selama puluhan bahkan ratusan tahun. Rakyat menuntut dibatalkannya Register No 50503007 dan Register No 50503008, serta Surat Menkeu No S-237/KN-I/2009 dan No S-1507/KN 2009. Karena berdasarkan surat tersebut, TNI AURI kemudian melakukan klaim atas tanah yang sudah dimiliki oleh warga hingga mencapai 1,000 hektar.

 

 

Unmasking and Challenging ASEAN-No to Neoliberal-Globalization Scheme on ASEAN

Jakarta(29/4)-Pembentukan komunitas ASEAN harus dikritisi, guna memastikan kedaulatan regional dari dominasi negeri-negeri dunia pertama, terlebih ditengah krisis energi, lingkungan, pangan dan finansial yang mengambil bentuk krisis overproduksi dinegeri-negeri maju. Pandangan ini disampaikan oleh organisasi massa dan non governmental organization yang tergabung dalam Indonesian Peoples’ Action On ASEAN (IPAA) dalam media briefingnya yang bertajuk “Unmasking and Challenging ASEAN-No to Neoliberal-Globalization Scheme on ASEAN: Stop Land Grabbing, Decent Wage and Employment for The Peoples”, sore ini dijakarta

“Rencana pembangunan komuntas ASEAN ini layak dikritisi, karena pada prosesnya sangat bias kepentingan negeri dunia pertama seperti Amerika, sehingga dapat mengkooptasi kedaulatan regional ASEAN” ujar Oki Firman Febrian, Direktur Institute for National and Democracy Studies (INDIES), anggota IPAA.(29/4)

Read more...
 

Buruh Migran Tumbal Integrasi ASEAN

Jakarta. Institute for National and Democratic Studies (INDIES) mengkritik desakan Presiden SBY tentang percepatan penyatuan ekonomi ASEAN harus segera dilakukan. Menurut Direktur Eksekutif INDIES, Oki Firman Febrian, SBY abai pada kenyataan integrasi ASEAN menumbalkan buruh migran yang mayoritas berasal dari Indonesia.

Oki menjelaskan, terdapat kurang-lebih enam juta buruh migran yang tersebar di dalam kawasan ASEAN. Sebagian besar berasal dari Indonesia. Selebihnya Myanmar, Kamboja, dan Vietnam. Sebagian besar buruh migran bekerja di Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand. Mayoritas buruh migran di kawasan ASEAN adalah para pekerja manual (unskilled labor) dan bekerja di sektor domestik, perkebunan, dan pabrik-pabrik pengolahan.

Read more...
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Page 1 of 23

Facebook Slide Likebox





Please enter valid API Key and valid Profile ID.

Please visit THIS site for more information.

Catatan Minggu Ini

Access to Finance for the Poor

Tuesday, 17 February 2009 | Administrator

Serving financial resource for the poor is not same as giving charity for beggar. Serving financial resource for the poor is has be seen as fulfilling their right to improve their living.
+ Selanjutnya

Tentang Rohingya

Sunday, 15 February 2009 | Administrator

Dalam waktu hampir satu bulan ini kita menyaksikan kisah yang menyedihkan tentang "manusia perahu" sebutan bagi orang-orang Rohingya yang dipercaya berasal dari Myanmar dan Bangladesh. Kini, jumlahnya diperkirakan sudah mencapai sekitar 400 orang yang datang dalam dua gelombang dan kini ditempatkan...
+ Selanjutnya

Another Articles

Date Hour


Subscribe to indies-update@googlegroups.com
View this group

Pengunjung

Members : 7
Content : 125
Web Links : 12
Content View Hits : 65275

Share it!